Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, Maret 2020
PEMANFAATAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU ROTAN(Calamus axillaris) SEBAGAI SUMBERDAYA EKONOMI MASYARAKAT
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Disusun Oleh :
Fransiskus Dabukke
1812011119
HUT 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI iKATA PENGANTAR ii
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan 2
BAB II ISI
2.1 Pengertian Rotan dan pemanfaatannya 3
2.2 Jenis-jenis dari Rotan 5
2.3 Pengelolaan dari Rotan 6
2.4. Penyebaran dari Rotan 7
2.5 Potensi dari Rotan 8
PENUTUP
3.1 Kesimpulan 12
3.2 Saran 12
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena berkat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Paper ini tepat pada waktunya. Paper Ekonomi Sumberdaya Alamyang berjudul “Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu Rotan Sebagai Sumberdaya Ekonomi Masyarakat” ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumberdaya Alam.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggungjawab Mata Kuliah Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si karena telah memberikan materi dengan baik dan benar dan telah membantu dan membimbing penulis dalam terwujudnya paper ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bimbingan dan arahan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi laporan ini akan sangat penulis hargai. Semoga paper ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Medan, Maret 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan merupakan sumber plasma nutfah yang memiliki potensi untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia seperti papan, pangan hingga obat-obatan. Saat ini hampir semua manusia tergantung pada hutan, baik untuk mengambil manfaatnya secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu manfaat yang diambil langsung dari hutan adalah hasil hutan non-kayu seperti hewan buruan, madu, tumbuhan pangan, tumbuhan obat, dan juga tumbuhan untuk pembuatan kerajinan tradisional seperti anyaman. Salah satu sumber hasil hutan non-kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah spesies-spesies rotan yang banyak digunakan baik sebagai bahan anyaman, keperluan tali temali maupun untuk dijadikan bahan sayuran. Rotan adalah salah satu tumbuhan yang secara alami tumbuh pada hutan primer maupun hutan sekunder termasuk di kawasan bekas perladangan berpindah dan semak belukar. Rotan merupakan hasil hutan yang potensial untuk dikembangkan sebagai bahan perdagangan, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor (Jumiati et al., 2012).
Rotan merupakan salah satu tumbuhan hutan yang mempunyai nilai komersil cukup tinggi, selain itu sebagai sumber devisa negara yang pemanfaatannya banyak melibatkan petani. Rotan pada umumnya tumbuh secara alami, menyebar menyebar mulai dari daerah pantai hingga pegunungan, pada elevasi 0-2900 mdpl. Secara ekologis rotan tumbuh dengan subur diberbagai tempat, baik dataran rendah maupun agak tinggi, terutama di daerah yang lembab seperti pinggiran sungai. Hampir seluruh bagian rotan dapat digunakan baik sebagai konstruksi kursi, pengikat, maupun komponen desainnya. Sifat fisik rotan merupakan sifat khas yang dimiliki oleh suatu jenis rotan secara alamiah. Sebagai bahan alami, rotan sudah sejak lama dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dapat digunakan dalam berbagai keperluan hidup sehari-hari. Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta diangkut. Rotan mempunyai beberapa kriteria dari segi pengolahan, dari bahan mentah menjadi bahan yang siap diolah menjadi produk furniture (Kunut et al., 2014).
Hasil Hutan Bukan Kayu (Non Timber Forest Product) selalu menduduki peran penting dan besar dalam ekonomi kehutanan negara-negara berkembang dan produk HHBK telah menjadi pemasukan sekaligus pendapatan langsung bagi pemenuhan kebutuhan banyak rumah tangga dan masyarakat di dunia. HHBK terdiri dari banyak jenis, baik dari tumbuhan maupun hewan sehingga pemanfaatannya dapat memenuhi kebutuhan pangan, energi, obat-obatan dan manfaat lainnya.Salah satu produk hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai pasar tinggi adalah rotan. Hal ini menunjukkan bahwa hutan di Indonesia dapat merupakan tempat yang sesuai untuk pertumbuhan berbagai jenis rotan. Variasi jenis rotan yang ada di Indonesia sekitar 312 jenis yang terdiri dari 8 marga dari 13 marga rotan di dunia (Sahwalita, 2014).
Banyak manfaat yang bisa diambil langsung dari hutan salah satunya adalah hasil hutan non-kayu seperti hewan buruan, tumbuhan pangan, madu, tumbuhan obat dan juga tumbuhan pembuatan kerajinan tradisional seperti rotan. Salah satu sumber hasil hutan non kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu spesies rotan yang banyak digunakan sebagai bahan anyaman, keperluan tali temali maupun untuk dijadikan sayuran. Pemanfaatan sumberdaya alam oleh masyarakat lokal sekitar secara arif di Indonesia ini belum banyak dikaji dan didokumentasikan (Siska et al., 2015).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Rotan dan pemanfaatannya?
2. Apa saja jenis-jenis dari kayu Rotan?
3. Bagaimana pengelolaan dari Rotan?
4. Bagaimana Penyebaran Rotan?
5. Bagaimana Potensi dari Rotan?
1.3 Tujuan
Tujuan dari paper ini adalah :
Untuk mengetahui apa itu rotan dan pemanfaatannya
Untuk mengetahui jenis-jenis dari kayu rotan
Untuk mengetahui pengolahan dari rotan
Untuk mengetahui penyebaran dari rotan
Untuk mengetahui potensi dari rotan
BAB II
ISI
2.1 Apa itu rotan dan pemanfaatannya
Akar tanaman rotan mempunyai ndust perakaran serabut, berwarna keputih-putihan atau kekuning-kuningan serta kehitam-hitaman. Batang tanaman rotan berbentuk memanjang dan bulat seperti silinder tetapi ada juga yang berbentuk segitiga. Batang tanaman rotan terbagi menjadi ruas-ruas yang setiap ruas dibatasi oleh buku-buku. Pelepah dan tangkai daun melekat pada buku-buku tersebut. Tanaman rotan berdaun majemuk dan pelepah daun yang duduk pada buku dan menutupi permukaan ruas batang. Daun rotan ditumbuhi duri, umumnya tumbuh mengahadap ke dalam sebagai penguat mengaitkan batang pada tumbuhan inang. Rotan termasuk tumbuhan berbunga majemuk. Bunga rotan terbungkus seludang. Bunga jantan dan bunga betina biasanya berumah satu tetapi ada pula yang berumah dua. Karena itu, proses penyerbukan bunga dapat terjadi dengan bantuan ndust atau serangga penyerbuk. Buah rotan terdiri atas kulit luar berupa sisik yang berbentuk trapezium dan tersusun secara ndustry dari toksis buah. Bentuk permukaan buah rotan halus atau kasar berbulu, sedangkan buah rotan umumnya bulat, lonjong atau bulat telur (Januminro, 2000).
Rotan merupakan palem berduri yang memanjat dan hasil hutan bukan kayu yang terpenting di Indonesia. Rotan dapat berbatang tunggal (soliter) atau berumpun. Rotan yang tumbuh soliter hanya dipanen sekali dan tidak berregenerasi dari tunggul yang terpotong, sedangkan rotan yang tumbuh berumpun dapat dipanen terus –menerus.Secara umum tujuh ratus juta orang di dunia memanfaatkan rotan. Rotan sebagai salah satu komoditi yang mulai dapat di andalkan untuk penerimaan negara telah dipandang sebagai komoditi perdagangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang cukup penting bagi Indonesia. Hasil hutan bukan kayu umumnya dikelola oleh masyarakat yang bermukim di sekitar hutan. Oleh karena itu, selain menjadi sumber devisa negara HHBK seperti rotan, daging binatang, madu, dammar, berbagai macam minyak tumbuhan bahan obatobatan, dan lain sebagainya merupakan sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Rotan tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku ndustry furniture tetapi juga sebagai makanan dan obat (Dransfield, 1999).
Rotan dapat memberikan banyak manfaat antara lain sebagai bahan baku kerajinan dan mebel, bahan pewarna, obat-obatan, kosmetik serta bahan pangan sebagai sayuran yang lezat.Pemanfaatan rotan sebagai bahan mebel dan kerajinan perlu didukung dengan pengetahuan tentang botani, silvikultur, struktur anatomi, komponen kimia, ketahanan terhadap jamur dan serangga, pengolahan serta aspek ekonomi dan perdagangan. Pemanfaatan rotan dimulai oleh bangsa Melayu di Indochina yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand dan Pilipina. Perkembangan ndustry pengolahan rotan terpusat di pulai Jawa sementara bahan baku banyak dikirim dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua berupa rotan asalan dan rotan bulat. Rotan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan antara lain: tikar, kursi, meja, keranjang, dan barang kerajinan. Walaupun pemanfaatan rotan telah berkembang pesat, tapi perkembangan ilmu dan teknologi pengolahan rotan tidak
demikian (Rachman dan Jasni, 2006).
Pada saat pengolahan rotan banyak mengalami kerusakan mulai dari serangan jamur, patah, pecah dan belum memasukan unsur estetika pada produk olahannya. Selain sebagai bahan baku mebel dan kerajinan, rotan juga dimanfaatkan sebagai obat, kosmetik dan pewarna terutama dari jenis Daemonorops sp. Jenis ini yang dimanfaatkan adalah resin yang menempel pada buahnya. Resin ini menempel pada buah yang masih muda dan resin menipis seiring dengan penuaan buah tersebut. Pemanenan buah yang masih muda menyebabkan kesulitan memperoleh biji yang digunakan untuk benih. Pemanfaatan lain rotan adalah ubut rotan yang digunakan untuk sayur dan lalap. Selain itu rotan merupakan sumber air untuk menghilangkan dahaga di dalam hutan. Para pemburu, petani atau petugas survey dapat memperoleh air dengan memotong batang rotan yang merambat ke pohon. Produksi rotan masih mengandalkan dari hutan alam, sehingga sangat tergantung pada kondisi hutan yang ada, untuk keperluan lain seperti perkebunan, pertambangan, pemukiman dan lain-lain. (Sahwalita, 2014).
2.1 Jenis-jenis dari kayu Rotan
Rotan Cacing (Calamus melanoloma Mart) tumbuh secara berumpun hidup di pinggir sungai dan pegunungan. Dalam satu rumpun terdapat banyak batang rotan. Batang rotan cacing berwarna hijau kekuningan, pada batang terdapat duri yang berwana kekuningkuningan dan daun terdapat duri. Rotan ini dapat dianyam dalam berbagai bentuk dan biasa digunakan sebagai tali pengikat, rotan cacing mendominasi dari jenis rotan lainya. Rotan Tohiti (Calamus inops)hidup tunggal, dapat ditemukan di pinggir sungai dan di pegunungan kemudian batang berdiameter besar, warna batang hijau tua, tumbuh ke atas kemudian melilit pada pohon di sekitarnya. Permukaan pelepah dipenuhi oleh duri yang rapat dan tidak beraturan, pelepah berduri tajam, daunnya berbulu halus. Jenis rotan ini bernilai ekonomi tinggi, dipergunakan sebagai bahan baku
meubel (Abdurachman dan Jasni, 2015).
Rotan Lambang (Calamus ornatus) hidup berumpun dan dapat ditemukan di pinggir sungai dan pegunungan, permukaan batang licin, terdapat pelepah daun berduri. Warna daun hijau, pada bagian daun terdapat duri pendek berwarna putih kekuningan. Dilihat dari manfaatnya rotan ini bernilai ekonomi rendah akan tetapi masyarakat tetap memungutnya karena rotan ini banyak ditemukan di hutan lindung. Rotan Batang (Calamus zollingeri Becc) hidup berumpun, tumbuh menjalar permukaan tanah di pinggir sungai dan pegunungan. Kemudian memanjat dan melilit pada batang pohon di sekitarnya. Warna batang hijau tua. Rotan batang bernilai ekonomi tinggi dan digunakan sebagai bahan baku meubeler akan tetapi jenis rotan ini jarang ditemukan di ndustr hutan lindung tersebut. Rotan Noko (Calamus Koordersianus Becc) hidup berumpun, diameter batang tanpa pelepah, daun ditumbuhi duri, daunnya sangat ndustr, batang ditumbuhi duri ndustr dan adapula duri yang pendek. Jenis rotan ini merupakan rotan yang sangat langka ditemukan di hutan lindung tersebut karena jumlahnya yang sangat sedikit sehingga masyarakat sekitar tidak banyak yang memanfaatkannya (Kunut et al., 2014).
2.3 Pengelolaan dari Rotan
Proses pengolahan rotan yang ada di Desa Kebong termasuk proses pengolahan rotan rumahan secara tradisional. Cara pengolahan pada masyarakat tersebut yaitu, rotan diambil di hutan atau kebun dipilih rotan yang sudah masak tebang. Cara membedakan rotan yang siap dipanen dengan rotan yang masih muda biasanya masyarakat setempat melihat langsung dari warna daun rotan. Warna daun rotan yang sudah masak tebang biasanya mulai mengering dengan berwarna keabu-abuan, kekuningkuningan dan sudah banyak daun dan duri yang gugur. Setelah mendapatkan rotan yang siap dipanen, cara pengambilannya yaitu dengan memotong bagian pangkal pohon rotan, ditarik sampai seluruh bagian rotan terlihat, kemudian rotan digosokkan. Sesampainya di rumah, rotan tidak langsung ndu dianyam tetapi harus melalui proses terlebih dahulu. Rotan yang baru diambil dari hutan biasanya ada yang langsung diolah yaitu di belah. Tetapi, ada juga masyarakat yang tidak langsung mengolah rotan. Rotan yang tidak diolah biasanya dijemur terlebih dahulu dalam keadaan masih utuh (bulat-bulat) kemudian disimpan diperapian atau di langit-langit rumah. Manfaat dari penjemuran rotan tersebut adalah supaya rotan awet tidak berjamur atau membusuk (Siska et al., 2015).
Rotan yang di simpan setelah dijemur tadi biasanya mampu bertahan sampai bertahun-tahun lamanya. Pada pengolahan rotan industri, biasanya rotan yang tidak langsung dibawa ke tempat industry rotan terlebih dahulu direndam dengan bahan pengawet selama 2-4 jam, hal ini untuk menghindari serangan jamur biru, penggerek basah dan kumbang ambrosia. Adapun cara pengolahan rotan segar yang baru diambil dari hutan, biasanya setelah rotan di belah-belah sesuai keinginan dan bentuk anyaman yang akan dibuat selanjutnya rotan diraut. Proses perautan berfungsi untuk menghaluskan dan menipiskan bagianbagian rotan yang telah dibelah tadi agar rotan mudah dianyam. Proses perautan ini juga berfungsi supaya ukuran rotan yang dibelah tadi sama dan rapi bentuknya. Setelah rotan diraut barulah dianyam sesuai dengan jenis kerajinan yang diinginkan. Rotan memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari yang mempunyai banyak manfaat diantaranya, digunakan untuk anyaman, bahan makanan, obat, tali temali dan di untuk upacara adat (Yuniarti dan Basri, 2005).
2.4 Penyebaran dari Rotan
Rotan dalam struktur dunia tumbuh-tumbuhan termasuk Divisio Spermatophyta, sub divisio Angiospermae, class Monocotyledonae, Ordo Spacadiciflorae dan Famili/suku Palmae, dimana sampai saat ini sudah dikenal sebanyak 15 suku yaitu: Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Ceratolobus, Plectocomiopsis , Myrialepis, Calospatha, Bejaudia, Cornera, Schizospatha, Eremospatha, Ancitrophylum dan Oncocalamus. Dari jumlah suku yang telah ditemukan tersebut, telah diketahui sebanyak 9 suku dengan jumlah jenisnya, yaitu :Calamus (370 spp/jenis), Daemonorops (115 spp/jenis), Khorthalsia (31 spp/jenis), Plectocomia (14 spp/jenis), Ceratolobus (6 spp/jenis), Plectocomiopsis (5 spp/jenis), Myrialepis (2 spp/jenis), Calospatha (2 spp/jenis), dan Bejaudia (1 spp/jenis). Di Indonesia sampai saat ini ditemukan sebanyak 8 jenis, yaitu Calamus, Daemonorops, Khorthalsia, Plectocomia, Ceratolobus, Plectocomiopsis, Myrialepis, dan Calospatha.
Dari 8 suku tersebut total jenisnya di Indonesia mencapai tidak kurang dari 306 jenis, penyebarannya di pulau Kalimantan sebanyak 137 jenis, Sumatera sejumlah 91 jenis, Sulawesi menyebar sebanyak 36 jenis, Jawa sejumlah 19 jenis, Irian 48 jenis, Maluku 11 jenis, Timor 1 jenis dan Sumbawa 1 jenis. Berdasarkan data Departemen Kehutanan, menunjukan bahwa Propinsi Kalimantan Tengah merupakan daerah yang memiliki populasi pohon rotan yang tertinggi di Indonesia dengan populasi mencapai 75,45 % dari total ± 17,6 juta pohon dan jumlah pohon yang siap tebang mencapai 81,10 % dari total ± 14,7 juta pohon rotan. Data sebaran potensi populasi dan prosentase pohon rotan tersebut diikuti oleh Propinsi Kalimantan Timur dengan jumlah 13,69 % dan 8,66 % dan Kalimantan Selatan dengan jumlah 7,46 % dan 8,28 %, sedangkan sisanya tersebar dibawah prosentase 1 % di seluruh wilayah propinsi lainnya.Dengan data tersebut, maka menjadi realistis apabila kebijakan tata niaga rotan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat harusnya berpihak pada daerah penghasil rotan, terutama tertuju pada para petani atau rumah tangga yang menguasai tanaman rotan, yang telah bertahun-tahun melakukan penanaman dan pemeliharaan tanaman rotan (Hartanti, 2012).
2.5 Potensi dari Rotan
Di Indonesia dijumpai kurang lebih 312 jenis rotan, dimana 51 jenis diantaranya adalah jenis rotan komersial, sedangkan 261 jenis adalah jenis non-komersial. Diantara 51 jenis komersial tersebut, sekitar 20-30 jenis saja yang sangat disukai dan banyak dieksploitasi. Dari jumlah tersebut, terdapat rotan yang tergolong elit/favorit, yaitu manau, sega/taman, irit, tohiti dan batang. Jenis non komersial umumnya masih banyak tumbuh di hutan alam, belum dimanfaatkan karena informasi pemanfaatannya belum banyak diketahui, seperti tretes (Daemonorop heteroides), galaka (Calamus sp.), getah (Daemonorop angustifolia), puteh (Calamus albus), gelang /sabut (Daemonorops sabut) dan lainnya. Pada umumnya pembeli hanya memesan jenis rotan yang sudah jelas penggunaannya dan laku diperdagangkan. Potensi lestari rotan nasional Indonesia disebut dalam berbagai sumber berkisar antara 700.000 ton sampai 210.000 ton. Angka ini sesungguhnya tidak jauh berbeda, karena yang 700.000 ton adalah potensi rotan basah sedangkan yang 210.000 ton adalah rotan kering. Bila diasumsikan bahwa rendemennya 50%, maka yang 210.000 ton kering adalah setara dengan 420.000 ton basah. Bahkan dengan nilai rendemen 30% (angka yang sering dipakai oleh pengumpul rotan yang memproses dari rotan basah menjadi rotan asalan – yang kering) maka nilai 210.000 ton kering setara dengan 630.000 ton rotan basah (Sumardjani, 2011).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Rotan merupakan salah satu tumbuhan hutan yang mempunyai nilai komersil cukup tinggi, selain itu sebagai sumber devisa negara yang pemanfaatannya banyak melibatkan petani.
2. Rotan merupakan palem berduri yang memanjat dan hasil hutan bukan kayu yang terpenting di Indonesia. Rotan dapat berbatang tunggal (soliter) atau berumpun.
3. Jenis-jenis rotan adalah Rotan cacing, Rotan tohiti, Rotan lambang, Rotan batang, dan Rotan noto.
4. Rotan memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari yang mempunyai banyak manfaat diantaranya, digunakan untuk anyaman, bahan makanan, obat, tali temali dan di untuk upacara adat.
5. Di Indonesia dijumpai kurang lebih 312 jenis rotan, dimana 51 jenis diantaranya adalah jenis rotan komersial, sedangkan 261 jenis adalah jenis non-komersial.
Saran
Dengan adanya paper ini dapat membantu orang yang ingin mengetahui tentang rotan, terutama dalam pengelolaan rotan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman, dan Jasni. 2015. Penggolongan Performans 25 Jenis Rotan Indonesia Berdasarkan Kerapatan, Kekakuan, dan Kekuatan. Bogor. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 33(4).
Dishut Provinsi Sumatera Utara. 2008. Gambaran Umum Hasil Hutan Bukan Kayu (Rotan dan Bambu) di Provinsi Sumatera Utara. Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Medan.
Dransfield, J. 1999. A. Short Guide to Rattans. BIOTROP. Bogor.
Hartanti, Grace. 2012. Perkembangan Material Rotan dan Penggunaan di Dunia Desain Interior. Universitas Bina Nusantara. Humaniora. 3(2).
Januminro. 2000. Rotan Indonesia. Kanisius.
Jumiati., Hariyadi, B., Murni, P. 2012. Studi Etnobotani Rotan Sebagai Bahan Kerajinan Anyaman Pada Suku Anak Dalam (SAD) di Dusun III Senami, Desa Jebak, Kabupaten Batanghari, Jambi. Jambi. Biospecies. 5(1) : 33.
Kunut, A. A., Sudhartono, A., Toknok, B. 2014. Keanekaragaman Jenis Rotan (Calamus Spp.) di Kawasan Hutan Lindung Wilayah Kecamatan Dampelas Sojol Kabupaten Donggala. Universitas Tadulako. Warta Rimba. 2(2) : 102-103.
Rachman, Osly dan Jasni. 2006. ROTAN Sumberdaya, Sifat dan Pengolahannnya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor.
Sahwalita. 2014. Rotan sebagai HHBK Unggulan. Palembang. Balai Penelitian Kehutanan Palembang.
Siska, L., Zainal, S dan Sirait, S ,M. 2015. Etnobotani Rotan sebagai Bahan Kerajinan Anyaman Masyarakat Sekitar Kawasan Taman Wisata Alam Bukit Kelam Kabupaten Sintang. Pontianak. Jurnal Hutan Lestari. 3(4) : 496-497.
Sumardjani, Lisman. 2011. Studi Rotan di Katingan – Kalimantan Tengah. Yayasan Rotan Indonesia.
Yuniarti, K dan Basri, E. 2005. Rekayasa Alat Kontrol Suhu dan Kelembaban untuk Bangunan Pengeringan Kombinasi Tenaga Surya dan Panas Tungku. Laporan Hasil Penelitian. Puslitbang Hasil Hutan. Bogor.
